JuRnalplus.com, PALEMBANG – Bagi warga Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang, genangan air bukan lagi peristiwa insidental, melainkan kondisi yang terus berulang. Saat hujan deras atau air pasang Sungai Borang, sejumlah kawasan permukiman kembali terendam, sementara solusi permanen tak kunjung hadir.
Di tengah keterbatasan itu, warga bersama pemerintah kelurahan hanya mampu mengandalkan gotong royong sebagai langkah bertahan. Saluran drainase dibersihkan secara manual, sedimentasi diangkat, dan aliran air diupayakan tetap berjalan meski kemampuan teknis sangat terbatas.
Lurah Lebong Gajah, Muhammad Waldo, mengakui bahwa gotong royong menjadi pilihan utama karena belum adanya dukungan infrastruktur pengendalian air yang memadai.
“Untuk drainase, kami ajak warga gotong royong. Ketua RT, RW, dan masyarakat turun langsung membersihkan saluran. Itu yang bisa kami lakukan saat ini,” ujarnya.
Namun, Waldo menegaskan bahwa akar persoalan bukan sekadar drainase. Wilayah Lebong Gajah memiliki kontur rendah dan berada dalam pengaruh pasang Sungai Borang, sehingga genangan tetap terjadi meski cuaca cerah.
“Empat hari tidak hujan pun air bisa naik karena pasang. Ini bukan masalah saluran kecil, tapi persoalan wilayah,” jelasnya.
Menurutnya, beberapa kawasan bahkan pernah mengalami genangan lebih dari 1×24 jam, yang secara teknis sudah dapat dikategorikan sebagai banjir. Kondisi tersebut terjadi di RT 68 dan kawasan Rompok yang terdiri dari beberapa RT.
Di sisi lain, Waldo menyebut bahwa berbagai usulan penanganan telah disampaikan pemerintah kelurahan melalui jalur resmi, mulai dari Musrenbang hingga Bantuan Gubernur (Bangub). Usulan itu mencakup pembangunan kolam retensi di Jalan Betawi Raya, Jalan Tulang Bawang, RT 68, dan kawasan Rompok, serta pembangunan turap, pintu air, dan pompanisasi.
“Usulan itu bukan baru sekali. Sudah kami ajukan, tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Sementara warga terus menghadapi genangan dari tahun ke tahun,” katanya.
Minimnya realisasi tersebut membuat wilayah pinggiran seperti Lebong Gajah terkesan berjalan sendiri dalam menghadapi persoalan lingkungan. Waldo menduga, fokus pembangunan masih lebih diarahkan ke kawasan pusat Kota Palembang, sementara wilayah pinggiran belum menjadi prioritas.
“Kami paham kota juga punya banyak masalah. Tapi di sini dampaknya nyata. Jalan rusak karena terendam, aktivitas warga terganggu, dan ini terus berulang,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dan provinsi mulai melihat persoalan banjir di pinggiran kota sebagai bagian dari sistem yang saling terhubung, bukan sekadar persoalan lokal kelurahan.
“Kalau wilayah pinggiran dibiarkan, dampaknya juga akan ke kota. Harapan kami sederhana, jangan sampai warga terus dipaksa bertahan dengan gotong royong tanpa solusi permanen,” pungkasnya.






