JuRnalplus.com, Palembang — Upaya mencegah perundungan (bullying) di lingkungan sekolah dinilai akan lebih efektif jika dilakukan sejak dini. Prinsip itulah yang diterapkan SMA Negeri 16 Palembang dengan menanamkan edukasi anti-bullying sejak siswa baru pertama kali memasuki lingkungan sekolah.
Sejak masa pengenalan siswa baru, pihak sekolah telah memasukkan materi khusus tentang pencegahan bullying. Edukasi tersebut disampaikan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari aparat kepolisian, Koramil, hingga tokoh-tokoh yang memiliki kompetensi dalam pembinaan remaja. Langkah ini dimaksudkan agar siswa memahami batas perilaku sekaligus konsekuensi dari tindakan perundungan.
Tak berhenti di tahap awal, penguatan materi anti-bullying juga dilakukan secara berkala. Dalam rentang waktu enam hingga delapan bulan, pihak sekolah kembali menghadirkan pemateri untuk mengingatkan siswa terhadap nilai-nilai yang telah disampaikan saat awal masuk sekolah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 16 Palembang, Rusdi, SH, M.SE, mengatakan bahwa pendekatan preventif menjadi kunci utama dalam menjaga iklim sekolah yang kondusif.
“Pencegahan kami mulai sejak siswa masuk. Alhamdulillah, dengan cara itu, sudah empat sampai lima tahun terakhir ini tidak ada lagi kasus bullying di sekolah,” ujarnya.
Upaya pencegahan dini tersebut diperkuat melalui peran aktif guru Bimbingan dan Konseling (BK). Guru BK secara rutin masuk ke kelas setiap pekan untuk berdialog langsung dengan siswa, menggali dinamika pergaulan, serta mendeteksi potensi persoalan sejak awal.
Guru BK SMA Negeri 16 Palembang, Dwi Putri, menuturkan bahwa komunikasi terbuka di kelas menjadi sarana penting untuk mencegah terjadinya bullying.
“Setiap masuk kelas, saya selalu membuka ruang dialog. Kalau ada anak yang melihat atau mengalami bullying, kami tekankan untuk tidak ikut-ikutan dan segera melapor,” kata Dwi Putri.
Menurutnya, laporan sekecil apa pun akan ditindaklanjuti secara persuasif agar persoalan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan tidak menimbulkan trauma bagi siswa.
Selain pendekatan di kelas, guru BK bersama bidang kesiswaan juga secara berkala memanggil perwakilan kelas untuk menggali informasi terkait kondisi dan relasi antar siswa. Cara ini dinilai efektif untuk membaca situasi di lapangan secara lebih objektif.
Pencegahan dini juga diperkuat melalui peran Majelis Perwakilan Kelas (MPK). Organisasi ini menjadi penghubung antara siswa dan pihak sekolah dalam menyampaikan informasi penting yang terjadi di kelas.
“MPK membantu kami memantau dinamika siswa. Kalau ada potensi masalah, bisa segera kami tindak lanjuti,” jelas Rusdi.
Dalam menangani pelanggaran disiplin, sekolah mengedepankan pendekatan edukatif dibanding hukuman. Siswa yang terlambat, misalnya, tetap diperbolehkan mengikuti pelajaran setelah diberikan pembelajaran disiplin ringan. Jika pelanggaran berulang, pihak sekolah melibatkan orang tua untuk mencari akar permasalahan.
Pendekatan tersebut, menurut Dwi Putri, penting karena tidak semua persoalan siswa bersumber dari niat melanggar aturan, melainkan juga dipengaruhi kondisi keluarga dan lingkungan.
Sekolah juga memastikan pencegahan bullying diterapkan secara menyeluruh, termasuk terhadap siswa disabilitas. Hingga kini, pihak sekolah menegaskan tidak ada praktik perundungan terhadap siswa berkebutuhan khusus. Budaya saling menjaga dan empati justru terus ditanamkan sejak awal.
Dengan menanamkan edukasi anti-bullying sejak siswa baru, memperkuat pendampingan guru BK, serta melibatkan siswa dan orang tua, SMA Negeri 16 Palembang berupaya membangun budaya sekolah yang aman dan inklusif.
Pendekatan preventif ini menjadi bukti bahwa pencegahan sejak dini merupakan langkah paling efektif untuk memutus mata rantai bullying di lingkungan pendidikan.






