JURNALPLUS.COM, PALEMBANG -Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memperkuat strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menitikberatkan pada kolaborasi lintas sektor dan deteksi dini, seiring potensi musim kemarau panjang akibat fenomena El Niño tahun ini.
Langkah tersebut mengemuka dalam Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Karhutla Nasional 2026 yang digelar di Griya Agung, Palembang, dan melibatkan sekitar 1.600 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, instansi pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat peduli api.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau mulai berlangsung sejak April dan diperkirakan mencapai puncak pada Agustus 2026. Sementara fenomena El Niño diprediksi berkembang pada Juli hingga September, yang berpotensi meningkatkan kekeringan serta risiko karhutla di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Selatan.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Djamari Chaniago, dalam arahannya menegaskan bahwa pengendalian karhutla harus dilakukan secara lebih dini dan terpadu dengan mengedepankan pencegahan.
Ia menyebutkan, pemerintah telah mereaktivasi Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla Nasional 2026 guna memperkuat sinergi dalam pemantauan, pengendalian, penegakan hukum, serta komunikasi publik.
Sumatera Selatan sendiri masih tergolong wilayah rawan karhutla karena karakteristik lahan gambut dan riwayat kebakaran berulang. Meski demikian, tren luasan kebakaran menunjukkan penurunan, dari sekitar 15.422 hektare pada 2024 menjadi 5.939 hektare pada 2025, dan hingga April 2026 tercatat sekitar 79,95 hektare.
Pemerintah pun mengingatkan seluruh pihak untuk tidak lengah. Kepala daerah, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat diminta meningkatkan patroli terpadu, pemantauan titik panas, serta kesiapan sumber daya di lapangan.
Dari sektor swasta, APP Group bersama mitra pemasoknya di Sumatera Selatan turut menegaskan komitmen melalui pendekatan Integrated Fire Management (IFM) yang mengedepankan empat aspek utama: pencegahan, kesiapsiagaan, deteksi dini, dan respon cepat.
Direktur APP Group, Suhendra Wiriadinata, mengatakan bahwa pengendalian karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, pendekatan berbasis kolaborasi menjadi kunci agar upaya pencegahan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan, terutama melalui pelibatan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Upaya tersebut dijalankan melalui program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) yang telah menjangkau 31 desa di wilayah OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Program ini melibatkan ratusan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dalam kegiatan patroli, sosialisasi, serta pengelolaan lahan tanpa bakar.
Selain itu, kesiapsiagaan diperkuat dengan penyiagaan ratusan personel Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK) dan Tim Reaksi Cepat, serta dukungan armada darat, perairan, hingga udara, termasuk helikopter untuk patroli dan pemadaman.
Sistem deteksi dini juga dioptimalkan melalui menara pemantau, drone, CCTV, serta situation room yang terhubung secara real-time dengan data satelit dan beroperasi selama 24 jam.
Dengan penguatan sistem terintegrasi dan sinergi lintas sektor, upaya pencegahan karhutla di Sumatera Selatan diharapkan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif, terutama menghadapi ancaman musim kering tahun 2026.






